Kasus-Kasus Bank Kolaps beserta Alasan !

  • Tentang Bank Kolaps

Krisis yang disebabkan merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS secara tidak wajar, telah mengguncang perekonomian nasional termasuk di sektor lembaga perbankan dampak diantaranya likuidasi 16 bank yang terjadi pada tahun 1997 dan 38 bank pada 1999. Likuidasi bank yang terjadi adalah akibat dari memburuknya kinerja perbankan. Untuk menilai kinerja perbankan umumnya menggunakan lima aspek penilaian, yaitu: Capital, Asset, Management, Earning, dan Liquidity. Indikasi-indikasi bahwa suatu bank akan bangkrut,dilikuidasi atau ditutup sebagai berikut :

1. Tingkat bunga deposito dan tabungan yang jauh di atas rata-rata.

2. Tingkat bunga kredit yang tinggi

3. Kurang efisien dalam mengelola aset perusahaan (bank)

Ke-16 bank yang dilikuidasi ini terdiri atas Bank Pacific, Bank Andromeda, Bank Jakarta, Bank Pinaesaan, Bank Industri, Anrico Bank Ltd, Astria Raya Bank, Bank Harapan Santosa, Bank Guna Internasional, Sejahtera Bank Umum, Bank Umum Majapahit Jaya (BUMJ), Bank Kosagraha Semesta, South East Asia Bank, Bank Dwipa Semesta, Bank Citrahasta Dhanamanunggal, dan Bank Mataram Dhanarta

Bank AndromedaBank milik Keluarga Cendana adalah  mulai runtuh saat keputusan Pemerintah untuk melikuidasi 16 bank per 1 November 1997. Bank Andromeda, bank yang 25% sahamnya dimiliki Bambang Trihatmodjo, (50% dikuasai Johannes Kotjo dan sisanya 25% dikuasai Henry Pribadi), ikut dalam Bank Dalam Likuidasi (BDL). Bank Andromeda dilikuidasi oleh otoritas fiskal dan moneter berdasarkan SK Menkeu No.528/KMK.017/1997 tertanggal 1 November 1997 tentang pencabutan izin usaha PT Bank Andromeda dan SK. Gubernur BI No.30/120/KEP/DIR tertanggal 1 November 1997 tentang penunjukkan caretaker. Adapun alasan pencabutan izin Bank Andromeda adalah masalah klasik, yakni pelanggaran BMPK

Bank Andromeda lantaran melanggar batas maksimum pemberian kredit (BMPK) dengan menyalurkan kredit ke proyek Chandra Asri pada tahun 1990 sebesar US$75 juta, jumlah itu beserta bunganya saat dilikuidasi telah berjumlah Rp350 miliar.Dalam kurun waktu September-Oktober 1997, Bank Andromeda juga melakukan pelanggaran Giro Wajib Minimum 23 kali. Pelanggaran tersebut membuat Bank Andromeda masuk dalam bank bermasalah, hingga akhirnya pencabutan izin tak bisa dielakkan.

Namun untuk mencegah kepanikan nasabah ke-16 bank, Bank Indonesia mengeluarkan surat edaran yang menyebutkan bahwa Bank Negara Indonesia (BNI), Bank Rakyat Indonesia (BRI) dan Bank Dagang Negara (BDN) akan ditugaskan sebagai bank pembayar atas uang nasabah dari bank yang ditutup.

BRI akan bertanggung jawab atas nasabah Bank Harapan Sentosa (BHS), Bank Kosagraha Semesta, Bank Industri dan Bank Anrico. BNI bertanggung jawab atas nasabah Bank Dwipa Semesta, Bank Citrahasta Dhanamanunggal, Bank Mataram Dhanarta, dan Bank Pinaesaan.BDN bertanggung jawab atas nasabah Sejahtera Bank Umum, Bank Astria Raya, Bank Guna Internasional. Bank Jakarta, South East Asia Bank dan Bank Umum Majapahit Jaya (BUMJ).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s