Realitas Politik Mendistorsi Rasionalitas Ekonomi

Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2013 tidak adil. Meski dasi sisi postur berkelanjutan, alokasinya belum tepat. Dari volume pendapatan dan belanja senilai Rp 1.658 triliun, sebagian besar terkuras untuk urusan birokrasi dan subsidi tidak tepat sasaran. Porsi anggaran yang besar untuk belanja pegawai dan subsidi, sementara porsi yang kecil untuk belanja modal dan bantuan sosial.

Presentasi dari Pelaksana Tugas Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Bambang PS Brodjonegoro dalam acara diskusi yang digelar Centre for Strategic and International Studies (CSIS) tentang Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2013, menyatakan kalau berkesinambungan mungkin sudah dekat, tetapi kalau berkeadilan masih jauh.

Dikatakan jauh dari berkeadilan karena anggaran masih banyak teralokasi untuk hal – hal yang kurang produktif, diantaranya subsidi energi yang banyak tidak tepat sasaran. Subsidi energi terbesar terdiri dari subsidi listrik dan bahan bakar minyak (BBM) yang subsidinya mencapai rata – rata ratusan miliar rupiah.

Realitas politik dalam pemerintahan diakui menyebabkan pengambilan kebijakan menjadi sulit. Realitas politik adalah budget, jadi tidak optimal karena unsur politik dan sepertinya tidak menginginkan adanya kenaikan harga BBM.

Subsidi energy dalam RAPBN 2013 dialokasikan Rp 274,7 triliun. Sementara belanja modal hanya Rp 205 triliun. Adanya persoalan dalam hal alokasi dan efektivitas anggaran yang menyebabkan RAPBN 2013 tak berkeadilan. Subsidi yang tidak tepat sasaran, yang kurang produktif, lebih besar daripada yang produktif. Sedangkan belanja pegawai dan subsidi masing – masing menguasai 21,2 persen dan 27,8 persen dari total belanja pemerintah pusat. Ini lebih tinggi dibandingkan dengan belanja modal sebesar 17 persen.

Peneliti Departemen Ekonomi CSIS, Deni Friawan mengatakan “padahal 80 persen bensin Premium dinikmati oleh 50 persen keluarga terkaya. Sementara keluarga miskin dan hampir miskin serta keluarga paling miskin hanya menikmati 16 persen dan 1 persen.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s