Konsistensi Kebijakan Stabilisasi Kedelai

Kedutaan Besar AS di Indonesia menggelar diskusi bertema “Ketahanan Pangan dan Pengaruh Harga Komoditas”. Sebagai panelis Kepala Ekonom USAID James Whitaker, Guru Besar Fakultas Ekonomi UI Anwar Nasution, serta pakar ekonomi bidang pertanian dan perdagangan IPB sekaligus ekonom USAID, Wayan Susila. Direktur Utama Perum Bulog Sutarto Alimoeso datang sebagai pendengar.

Para panelis tidak sepakat penugasan Bulog karena membebani subsidi APBN. Peta perdagangan kedelai dunia berubah. Bulog tidak punya pengalaman teknis membeli kedelai dengan pola komersial. Bantuan kredit lunak AS tidak ada lagi. KUD yang dulu menjadi sarana pengadaan Bulog tidak ada lagi.

Panelis juga menilai respons pemerintah menurunkan bea masuk tepat. Monopoli Bulog hanya akan jadi pintu masuk KKN. Sinyal keberatan dari AS terkait kebijakan tata niaga kedelai di Indonesia ini bisa dipahami. AS merupakan eksportir utama kedelai dunia.

Ada dua tujuan masuknya Bulog dalam stabilisasi kedelai, yaitu untuk menjaga harga dan mendorong produksi. Kalau produksi kedelai nasional naik, tentu AS akan kehilangan sebagian pendapatan dari ekspor kedelai.

Kedelai memang bukan komoditas asli Indonesia yang strategis layaknya beras yang kalau terjadi gejolak bisa mengancam eksistensi pemerintah. Namun, perajin tahu -tempe merupakan tulang punggung ekonomi masyarakat kecil. Pemasok protein utama, terutama bagi warga menengah –bawah di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s